Menggugat Etika Para Pandawa

Salah satu epos yang paling saya sukai adalah Mahabharata. Kebetulan sekali epos tersebut divisualisasikan dalam bentuk film. Seingat saya Mahabharata diproduksi 2 kali. Baik versi lama maupun versi baru bagi saya keduanya tetap menarik. Jika ada sedikit perbedaan itu saya anggap biasa saja. Bukankah cerita Mahabharata versi wayang kulit juga tidak sepenuhnya sama dengan versi aslinya (India)? Semua itu sah-sah saja sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Sebut saja kisah Drupadi dalam Mahabharata. Bagi penggemar wayang kulit sekaligus film Mahabharata pasti dengan mudah mengetahui perbedaan kisah Drupadi. Dalam wayang kulit (Jawa), Drupadi dikisahkan sebagai istri dari Yudistira (anak tertua Pandawa). Sedangkan dalam film Mahabharata, Drupadi adalah istri dari kelima Pandawa.

Nah, disinilah letak perbedaannya. Di Indonesia, khususnya di Jawa sangat tidak lazim seorang perempuan mempunyai suami lebih dari satu orang (poliandri), sedangkan di India hal tersebut sudah biasa terjadi. Jadi kelaziman budaya masing-masing yang berperan menentukan cerita. Ada standar etika yang berbeda dalam kasus diatas.
Selanjutnya kita berbicara tentang pertempuran Pandawa melawan Kurawa di Padang Kurusetra yang dikenal dengan perang Baratayuda. Pasti kita berpikir perang ini adalah perang antara kebajikan melawan kejahatan. Pandawa mewakili pihak yang baik sedangkan Kurawa mewakili pihak yang jahat. Pemikiran tersebut tidak salah tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Apakah anda menganggap Pandawa benar-benar baik? Apakah Kurawa yang didukung oleh tokoh-tokoh kerajaan Astina itu jahat? Semua kembali kepada diri kita sebagai penikmat seni dalam menilai suatu cerita.
Saya melihat dalam perang Baratayuda ini ada masalah sebab dan akibat. Intinya banyak sekali kejahatan yang dilakukan para Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa yang notabene adalah saudara sepupu mereka sendiri dari lingkar kekuasaan kerajaan Astina. Sebagian kecil contoh kejahatan yang dilakukan oleh Kurawa adalah usaha pembunuhan Bima saat masih anak-anak, usaha pembunuhan Pandawa di Bale Sigala-gala, perlakuan tidak sepantasnya kepada Drupadi yang dilakukan oleh Duryudana hingga puncaknya kecurangan permainan dadu yang membawa konsekuensi Pandawa diasingkan di hutan selama 14 tahun. Para Pandawa menuntut hak atas tahta kerajaan Astina tetapi ditolak oleh Duryudana yang saat itu menjadi raja Astina. Jalan damai pun ditawarkan oleh pihak Pandawa tetapi kembali ditolak oleh Kurawa. Berbagai cara sudah ditempuh untuk menghindari perang tetapi kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah hingga meletuslah perang Baratayuda.


Dalam perang Baratayuda ada beberapa aturan main yang telah disepakati oleh Pandawa dan Kurawa, yaitu: perang dimulai pagi hari hingga matahari terbenam, para perang gada tidak diperkenankan menyerang bagian tubuh dibawah perut, tidak diperkenankan menyerang lawan yang tidak bersenjata, serta aturan-aturan main lainnya. Meskipun dalam kondisi perang tetap ada etika yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. Jika tidak ada aturan main tentu saja akan ada pihak yang merasa dirugikan.
Kejahatan yang dilakukan oleh para Kurawa jelas melanggar etika. Hal tersebut tidak bisa ditolerir oleh Pandawa sehingga perlu dilakukan perang. Sri Krisna yang berperan sebagai penasehat perang Pandawa menyebut perang Baratayuda adalah perang dharma. Perang antara kebaikan melawan kejahatan. Perang untuk menegakkan keadilan dan meruntuhkan kesewenang-wenangan. Oleh sebab itu Sri Krisna berpendapat jika dalam perang Baratayuda para Pandawa melakukan “sedikit” kecurangan untuk memenangkan pertempuran maka dapat dimaklumi karena mereka melakukannya untuk menegakkan keadilan. Pertanyaan selanjutnya, apakah Pandawa tidak melakukan kecurangan? Saya menilai Pandawa pun melanggar etika dalam perang Baratayuda ini. Ada beberapa aturan yang mereka langgar untuk memenangkan pertempuran. Setidaknya saya mencatat ada 3 pelanggaran yang dilakukan oleh para Pandawa:

  1. Menyebar berita bohong (dalam bahasa kekinian hoax) tentang kematian Aswatama untuk mengalahkan guru Drona. Pandawa menyadari untuk membunuh Drona tidaklah mudah. Apalagi dia mempunyai senjata sakti Bramastra yang konon katanya dewa saja tidak berani dengan senjata ini. Sri Krisna yang terkenal cerdik mengetahui kelemahan Drona. Krisna menyuruh Bima untuk membunuh seekor gajah yang bernama Aswatama. Kemudian Bima berteriak-teriak dalam perang itu seolah-olah memberitahukan kepada Drona bahwa sang putra-Aswatama- telah mati. Drona yang tidak mudah percaya dengan perkataan Bima mencoba bertanya kepada Yudistira. Drona menganggap Yudistira adalah orang yang paling jujur seumur hidupnya. Yudistira yang telah melanggar sumpahnya untuk berbohong akhirnya harus berdusta pada gurunya sendiri. Dia membenarkan bahwa Aswatama telah mati. Drona mengira Aswatama yang mati adalah putranya padahal Aswatama yang dibunuh oleh Bima adalah seekor gajah. Mendengar penjelasan Yudistira itu Drona menjadi sedih. Dia tak kuasa lagi melanjutkan pertempuran. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Arjuna untuk membunuh Drona. Pada akhirnya Drona gugur oleh tipu muslihat Pandawa.
  2. Pertempuran Arjuna melawan Karna. Arjuna tidak mengetahui bahwa sejatinya Karna adalah saudara tertuanya. Karna adalah putra Dewi Kunti (ibu para Pandawa) dengan Batara Surya. Dewi Kunti merahasiakan identitas Karna karena dia menganggap hal itu adalah sebuah aib yang terjadi sebelum dia diperistri oleh Pandu (ayah para Pandawa). Lagi-lagi Sri Krisna berperan dalam pertempuran antara Arjuna melawan Karna ini. Krisna yang bertindak sebagai kusir kereta perang Arjuna memancing Karna menuju daerah berlumpur. Karna yang bernafsu ingin membunuh Arjuna terpancing cengan taktik Krisna. Dia mengejar kereta Arjuna hingga meninggalkan medan perang. Karna masuk dalam perangkap Krisna. Roda kereta perang Karna terjebak dalam lumpur hingga tidak dapat bergerak lagi. Karna turun untuk mengangkat roda keretanya tetapi tidak berhasil. Dia menyadari bahaya sedang mengintainya maka dia mengeluarkan senjata andalannya yaitu Bramastra. Sejenak matanya terpejam serta berdoa untuk memanggil Bramastra. Diluar dugaannya ternyata Bramastra tidak kunjung muncul. Dia lupa akan kutukan Resi Parasurama kepadanya. Resi Parasurama telah ditipu oleh Karna perihal identitasnya. Parasurama hanya menerima murid yang berasal dari golongan brahmana sedangkan Karna berasal dari golongan ksatria. Mengetahui dirinya ditipu oleh Karna maka Parasurama mengutuk Karna tidak dapat menggunakan senjata Bramastra saat perang Baratayuda. Mengetahui Karna sudah tidak mempunyai senjata andalan maka Krisna menyuruh Arjuna untuk membunuh Karna menggunakan senjata Pasopati. Awalnya Arjuna menolak dengan alasan Karna tidak bersenjata tetapi Krisna meminta Arjuna untuk memanfaatkan kesempatan itu. Akhirnya Karna gugur dalam pertempuran itu oleh adiknya sendiri.
  3. Pertempuran Bima melawan Duryudana. Kedua tokoh yang bertempur ini sangat ahli dalam perang gada. Bima dan Duryudana adalah murid dari Balarama (kakak Krisna). Sebelum perang melawan Bima, Duryudana mendapat ilmu kebal dari sang ibu, Dewi Gandari. Namun demikian, ada bagian tubuh Duryudana yang menjadi titik lemahnya yaitu paha. Bima yang berulangkali memukulkan gadanya merasa heran Duryudana tidak merasa sakit sedikitpun. Sri Krisna mengingatkan Bima akan janji yang telah diucapkannya kepada Drupadi untuk mematahkan paha Duryudana. Seperti yang sudah disepakati kedua belah pihak bahwa dalam perang gada tidak diperkenankan memukul bagian tubuh dibawah perut. Bima yang teringat akan sumpahnya itu segera menghujamkan gadanya ke paha Duryudana. Setelah dipukul pahanya berulangkali akhirnya Duryudana terbunuh oleh Bima.

Dari kisah perang Baratayuda kita dapat mempelajari nilai-nilai etika yang telah dilanggar oleh kedua belah pihak. Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya bahwa perang Baratayuda adalah perang antara kebaikan melawan kejahatan. Pandawa mewakili pihak yang baik sedangkan Kurawa mewakili pihak yang jahat. Karena Kurawa berperan sebagai antagonis maka wajar jika mereka melakukan kejahatan. Akan menjadi menarik ketika kita membahas posisi Pandawa. Pandawa pada posisi protagonis yang seharusnya melakukan perbuatan baik (beretika) tetapi malah melanggar etika berperang. Dengan dalih menegakkan keadilan sekalipun menurut saya, Pandawa tetap melanggar etika berperang. Tentu saja pendapat saya bisa berbeda dengan penilaian orang lain.Apa itu etika? menurut Velasquez (2002), etika merupakan ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Etika mempertanyakan bagaimana standar-standar tersebut sudah diaplikasikan dalam kehidupan. Selain itu etika merupakan penelaahan standar moral untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau tidak jika digunakan dalam permasalahan kongkret. Istilah “etika” mempunyai bermacam-macam makna yang berbeda. Salah satu maknanya adalah prinsip tingkah laku yang mengatur tingkah laku atau individu. Bagi seseorang yang berlatarbelakang akuntansi tentu tidak asing mendengar istilah “etika akuntan”. Kita menggunakan istilah etika akuntan ketika mengacu pada seperangkat aturan yang mengatur tindakan profesi akuntan. Demikian juga pada perang Baratayuda. Ada beberapa aturan main dalam pertempuran yang telah disepakati pihak Pandawa dan Kurawa. Aturan main inilah yang disebut etika. Etika mengatur tindakan kedua belah pihak dalam berperang.
Dalam etika terdapat standar moral yang menguji apakah tindakan seseorang itu masuk akal atau tidak digunakan dalam peperangan. Oleh sebab itu kita dapat menguji apakah tindakan Pandawa termasuk melanggar etika berperang atau tidak. Kita ambil satu contoh tindakan para Pandawa dalam perang Baratayuda. Bagaimana tindakan Arjuna ketika membunuh Karna yang sudah tidak bersenjata? Sangat jelas dalam aturan perang dijelaskan bahwa seseorang tidak diijinkan membunuh lawannya yang tidak bersenjata. Aturan tersebut dibuat untuk mengatur tindakan seseorang dalam berperang. Selain itu, aturan perang dapat digunakan untuk menilai apakah masuk akal atau tidak menyerang lawan yang tidak bersenjata. Menurut saya hal ini tidak masuk akal karena keadaan menjadi tidak berimbang. Ada satu pihak yang terlalu kuat, ada pihak lain yang terlalu lemah. Jadi tindakan yang dilakukan oleh Arjuna dalam perang Baratayuda tersebut melanggar etika.
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah Mahabharata termasuk salah satunya masalah etika. Sebagai makhluk sosial kita tidak dapat lepas dari hidup bermasyarakat. Setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain. Etika mengatur tindakan kita sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu. Sebagai contoh: jika seorang PNS maka etika yang digunakan adalah etika birokrasi. Demikian juga dengan profesi saya sebagai akuntan maka saya terikat dengan etika profesi akuntan. Oleh sebab itu peran etika menjadi penting ketika seseorang mampu menilai tindakannya sudah masuk akal atau belum sehingga diharapkan tidak merugikan pihak lain.

*)Rudy Tri Hermawan, SE, M.Acc, Ak
Staf BPPKAD Kab. Blora