Pocut Meurah Intan, Wanita Pemberani Itu Dimakamkan di Blora

Nama pahlawan yang satu ini tak setenar dengan nama pahlawan lain dari Aceh, seperti Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Panglima Polim, Tengku Chik Di Tiro, dan Laksamana Malahayati. Padahal kalau melihat kiprah dan perjuangannya tak kalah heroik dengan pahlawan-pahlawan Aceh lain. Bahkan, ia pernah memperoleh label most wanted person dari penjajah Belanda di masa perjuangan dahulu. Dialah Pocut Meurah Intan yang bersama-sama dengan suami dan anak-anaknya berperang melawan Belanda.

Menariknya, keturunan Sultan Aceh ini tidak dimakamkan di tanah kelahirannya, tapi di tanah rantau yang jaraknya ribuan kilometer. Bukannya di taman makam pahlawan yang megah, melainkan di kompleks makam yang sangat sederhana. Tepatnya di kompleks makan keluarga Tegalsari, Tegalan, Temurejo, Blora, Jawa Tengah. Makam itu tampak kurang terawat saat berkunjung ke sana. Tidak ada pembatas khsusus yang menandai makam tersebut sebagai makam seorang pejuang. Banyak ilalang dan rerumputan yang tumbuh di sekeliling nisan.

Menurut penjaga makam, Saiun, tidak ada yang merawat secara khusus makam tersebut. Sama seperti makam-makam lain di sebelahnya, yang hanya sesekali disiangi atau dibersihkan rumputnya saat ada peziarah datang. “Kula nggih mboten khusus ngrawat makam niku. Namung menawi woten ingkang ziarah mawon,” ucapnya dalam bahasa Jawa.

Di sebelah Timur makam Pocut Meurah Intan justru tampak makam lebih tinggi dan besar. Di nisannya tertera nama Abu Umar Imam Chourmain dan istrinya, Mukaromah. Di bagian Utara makam terpancang bendera merah putih yang sudah usang dan tulisan Pejoeang 45. Dijelaskan oleh Mbah Saiun bahwa Imam Chourmain adalah pejuang tahun 1945 dan pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Namun, ketika mengonfirmasi hal tersebut kepada beberapa teman yang tahu tentang sejarah, mereka menjawab tak tahu tentang sosok Imam Chourmain. Bahkan, dicari dengan Google Search pun tidak ditemukan tokoh dimaksud.

Hanya saja di kompleks makam tersebut juga ditemukan makam keluarga Budi Harjono lengkap dengan anak, orang tua, dan mertua. Sebagaimana kita ketahui, Budi Harjono merupakan salah satu pengurus teras Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang meninggal dunia pada tahun 2003. Ia pernah menduduki Ketua Fraksi PDI pada tahun 1997 – 1999. Ia juga dikenal sebagai pendiri KAMI UI. Kiprahnya dalam politik Indonesia sudah tidak diragukan lagi.

Wisata Religi

Keberadaan makam Pocut Meurah Intan di Blora itu telah menarik perhatian berbagai elemen masyarakat untuk mengunjunginya. Umumnya mereka penasaran dengan letak makam itu yang tidak di taman makam pahlawan atau tempat khusus, tetapi di makam biasa. Mereka juga penasaran perihal alasan pemilihan makam yang tidak di tanah kelahirannya, tetapi di tanah rantau. Akan tetapi, informasi tentang hal ini tidak mudah kita temukan dari penjaga makam yang ada. Informasi yang diberikan terkesan seadanya dan tidak valid. Misalnya informasi yang diberikan Mbah Saiun bahwa Pocut Meurah Intan sampai ke Blora karena diajak oleh Abu Umar Imam Chourmain. Informasi ini jelas tidak valid kalau melihat masa kehidupannya yang berbeda jauh, yakni zaman penjajahan Belanda dan setelah kemerdekaan.

Para pengunjung lain yang datang ke makam ini berniat untuk ziarah dan berdoa. Peziarah ini beranggapan bahwa sosok Pocut Meurah Intan merupakan orang yang taat beragama dan cinta tanah air. Perjuangannya patut dijadikan teladan bagi setiap orang. Karenanya,  peziarah yang datang berasal dari berbagai elemen dan latar belakang yang berbeda. Mulai dari kelompok PKK, Dharma Wanita, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum.

Hanya saja, jumlah peziarah saat ini sudah semakin berkurang. Dalam ingatan Mbah Saiun, peziarah terakhir yang datang ke makam ini di penghujung tahun 2013. Peziarah itu adalah sekelompok mahasiswa dari Semarang. Jumlahnya sekitar 15 orang. “Seingat saya sekitar lima belas orang. Mereka mengaku mahasiswa dari Semarang,” ungkap Mbah Saiun dengan suara pelan sambil menahan sesak nafas.

Parmin (49), yang sehari-hari mencari rumput di sekitar makam menambahkan bahwa sebelum Tsunami memporak-porandakan tanah Rencong Aceh, ada rombongan besar dari Aceh ke makam Pocut Meurah Intan. Mereka datang dengan bus berombongan lebih dari 20 buah. Bus-bus itu berjajar di jalan depan makam yang tidak terlalu besar. “Jumlah pengunjung paling banyak ya rombongan dari Aceh itu. Lainnya datang dalam kelompok kecil,” terang Parmin.

Sebagai makam seorang pejuang, kondisi makam saat ini belum sebanding dengan besarnya perjuangan yang dilakukan oleh Pocut Meurah Intan. Tidak ada tanda khusus di makam itu yang menandakan makam orang besar. Akibatnya, orang yang ingin berziarah ke makam tersebut kerap kesulitan menemukannya.

Perjuangan Pocut Meurah Intan

Dalam berbagai literatur dijelaskan bahwa perjuangan Pocut Meurah Intan terjadi di akhir abad 19 sampai awal abad 20. Setelah berpisah dengan suaminya yang telah menyerah kepada Belanda, Pocut Meurah Intan mengajak putera-puteranya untuk tetap berperang. Ketika pasukan Marsose menjelajahi wilayah XII mukim Pidie dan sekitarnya, dalam rangka pengejaran dan pelacakan terhadap para pejuang, Pocut Meurah Intan terpaksa melakukan perlawanan secara bergerilya. Dua di antara ketiga orang puteranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi terkenal sebagai pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda.

Pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap oleh satuan Marsose Belanda yang beroperasi di wilayah Tangse, Pidie. Pada tanggal 19 April 1900, karena dianggap berbahaya, Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara.

Peningkatan intensitas patroli Belanda juga menyebabkan tertangkapnya Pocut Meurah Intan dan kedua puteranya oleh pasukan Marsose yang bermarkas di Padang Tiji. Namun, sebelum tertangkap ia masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak Belanda. la mengalami luka parah, dua tetakan di kepala, dua di bahu, satu urat keningnya putus, terbaring di tanah penuh dengan darah dan lumpur laksana setumpuk daging yang dicincang-cincang. Pada luka-lukanya itu disapukan setumpuk kotoran sapi, keadaannya lemah akibat banyak kehilangan darah dan tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan, luka-lukanya telah berulat. Mulanya ia menolak untuk dirawat oleh pihak Belanda, akhirnya ia menerima juga bantuan itu.

Pocut Meurah Intan sembuh dari sakitnya. Bersama seorang puteranya, Tuanku Budiman, ia dimasukkan ke dalam penjara di Kutaraja. Sementara itu, Tuanku Nurdin, tetap melanjutkan perlawanan dan menjadi pemimpin para pejuang Aceh di kawasan Laweueng dan Kalee. Pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda berhasil menangkap Tuanku Nurdin di tempat persembunyiannya di Desa Lhok Kaju, yang sebelumnya Belanda telah menangkap isteri dari Tuanku Nurdin pada bulan Desember 1904, dengan harapan agar suami mau menyerah.

Tuanku Nurdin tidak melakukan hal tersebut. Setelah Tuanku Nurdin ditahan bersama ibunya, Pocut Meurah Intan dan saudaranya Tuanku Budiman dan juga seorang keluarga sultan yang bernama Tuanku Ibrahim dibuang ke Blora. Pocut Meurah Intan wafat  pada tanggal 19 September  1937.  GusN